Ya, itu nama kegiatan. Proyek Babi Senang.
Ini gagasan sederhana, dimulai dari logika sederhana.

Bahwa babi hutan adalah favorit bagi mereka yang berdiam di sekitar hutan.
Mereka merasakan mulai sulitnya mencari babi hutan.

Logika sederhana, buatlah si babi hutan menjadi banyak. Bagaimana caranya?

Diternakkan? ah, bodoh! Daging babi ternak tak seenak babi hutan.
Terkekeh-kekeh mereka mendengar usulan soal perbanyak buatan itu.
"babi hutan bukan sapi", begitu mereka bilang.

Lagipula, pengalaman mereka membuktikan
bahwa babi hutan tak tahan diternakkan.
Stres, lalu pergi ke alam baka dengan cepat.

Lalu? Sederhana, perbanyak sumber pakan babi hutan.

Ah, sekali mendayung, dua puluh pulau terlewati.
Tanam saja pohon-pohon penghasil buah kesukaan si babi hutan,
biar mereka senang, gemuk dan beranak banyak.

Lalu pelihara saja sumber-sumber air minum mereka.
Biarkan saja pohon-pohon lapuk menghasilkan serangga dan ulat-ulat.
Supaya si babi hutan mudah makan, senang dan gembira.

Hm..
Supaya ada pohon, supaya ada serangga, supaya ada buah,
harus ada hutan.
Kalau begitu, hutan akan kami jaga,
Mereka tertawa-tawa membayangkan lucunya gagasan ini.
Lucu karena sederhana, tetapi penting buat mereka.

Pemikiran sederhana yang berdampak tak sederhana.
Simple, jika dibanding teori-teori tentang menyelamatkan hutan.
Jauh lebih action ketimbang lembaga-lembaga pembela lingkungan
dan konservasi yang cuma banyak slogan.

Pernah terpikir anda akan melakukan hal yang sama?
atau setidaknya mendukung gagasan sederhana ini?

Percaya atau tidak, gagasan ini berasal dari mereka,
tanpa workshop, tanpa embel-embel "bottom-up".
Asli dari mereka.

Lalu, kemana saja kita selama ini?

[sumber: http://priyandoko.blogspot.com/2008/11/proyek-babi-senang.html]

Selanjutnya
Posted by panthom on 29 January 2009

Di milis dan banyak pertemuan,
gencar dibicarakan soal melestarikan hutan.

Yang pemerintah sibuk dengan peraturan,
yang akademisi sibuk berteori,
yang LSM sibuk bikin partai lingkungan.

Jika berbicara, semua lantang bergemuruh,
"kamilah satu-satunya ksatria baja hijau,
pembela lingkungan, pengayom masyarakat".
Kalau diberi not balok, iramanya beda,
cara nyanyinya beda.
Yang sama cuma mangap-nya saja.

Nun jauh disana, utara kalimantan,
sekelompok kecil masyarakat Punan,
diam-diam menanam pohon.
Delapan ribu bibit sudah ditanam, untuk menandai wilayahnya,
"juga untuk anak-cucu kami", tidak dengan nada palsu.

Menyusul, babi hutan dan hewan-hewan liar mereka senangkan,
dengan menanam pohon-pohon buah
kesukaan para satwa hutan itu.
"babi-babi kami senangkan,
supaya mereka bisa menyenangkan kami juga
kalau nanti kami buru",
terkekeh mereka mengucapkannya.

Mereka bahkan bertukar cerita,
dengan Penan dari negara tetangga,
yang sebenarnya bukan tetangga, tetapi keluarga.

Cerita tentang bagaimana buldoser merusak hutan mereka,
bagaimana rencana perkebunan sawit membuat mereka was-was,
bagaimana slogan kabupaten konservasi cuma sebatas poster
dan hanya untuk pengumpulan penghargaan belaka.
Juga cerita tentang air sungai yang semakin cepat keruh,
dan banjir yang semakin sering dirasa.

"kalian masih bagus, air kami sudah tak lagi sihat",
saudara dari Serawak mengingatkan
supaya rajin bersyukur,
karena hutan disini masih lebih baik
dibanding hutan di negaranya.

"minta si anu cepat balik, kami rindu padanya",
begitu kalimat perpisahan.
Meminta bantuan untuk menyampaikan
pada saudara mereka yang belasan tahun
tak kunjung pulang kampung.
Ternyata, mereka mengenal banyak orang yang sama.

Sementara di kota-kota,
Seminar demi seminar, peraturan demi peraturan,
dan barisan orang-orang yang seolah-olah berpihak pada masyarakat hutan,
terus saja bergemuruh membendung milyaran uang.

Punan Indonesia dan Penan Sarawak bertemu, diam-diam saja.
"Kami saling belajar saja,
siapa tahu ada yang bisa bermanfaat
untuk anak-cucu nanti",
lirih saja suara itu.

[Penan bertemu Punan, Hutan Adiu, November 2008]

[sumber: http://priyandoko.blogspot.com/2008/11/anda-bicara-banyak-mereka-sudah-berbuat.html]

Selanjutnya
Posted by panthom on

Dari Seminar Lingkungan Garapan LP3M

MALINAU-Masyarakat Malinau yang bermukim di sekitar Desa Setarap Kecamatan Malinau Selatan mengaku bingung dengan kebijakan pemerintah kabupaten terutama tentang nasib hutan di sekitar desa mereka.Di satu pihak, pemerintah sudah membuang dana yang besar untuk mempromosikan Malinau sebagai kabupaten konservasi, namun di pihak lain pemerintah melalui oknum pejabat tertentu datang dan merayu warga agar mau melepaskan hutan kepada perusahaan yang ingin menanam kayu kertas (Acacia).

”Terus terang kami bingung. Mengapa kampanye konservasi begitu menggaung namun harus dibungkus dengan surat-surat perizinan perusahan kayu dan perkebunan skala besar?” ungkap Sidik, ketua panitia penyelengara dan juga pembawa acara pada seminar penyadaran masayarakat akan maanfaat hutan dan lingkungan sekitar. Seminar yang menggandeng LSM-LP3M divisi advokasi di Setarap berlangsung baru-baru ini.

Dalam membuka acara sederhana ala kampung itu, Sidik mengungkapkan rasa terima kasih kepada LP3M, salah satu LSM peduli lingkungan di Malinau yang berusaha mencarikan solusi akan persoalan di desa mereka.

Seminar dihadiri sekitar 25 tokoh dan warga yang merupakan utusan dari dua desa yaitu Desa Setarap Lama dan Setarap Baru.

Kedua desa itu didominasi oleh dua sub suku Dayak yaitu Dayak Punan dan Kenyah. Merujuk pada tema seminar yaitu ”Selamatkan Bumi Kita Dari Kehancuran, Dari Sekarang Kita Menanam”, maka mereka sepakat untuk menanam pohon gaharu di perbatasan hutan desa mereka.

Ketua LSM LP3M Boro N Suban dalam sambutan acara tersebut mengatakan, kesediaan LSM yang dipimpinnya dalam membantu masyaraka adalah hal yang wajar, karena sesuai dengan visi dan misi lembaganya.

”Jika ada tanaman yang kita tanam dalam hutan kita, maka status tanah itu bukan lagi milik negara tetapi milik masyarakat. Tentunya kita mengharapkan pemerintah menghargai milik warganya,” kata Niko kepada peserta seminar.

Dalam kesempatan itu LP3M menyerahkan bantuan berupa anakan gaharu sebanyak seribu pohon. Kepada peserta yang hadir, LSM ini menjanjikan akan membangun PLTA di desa ini. Dengan cacatan dalam setahun ini hutan mereka tidak dijamah perusahaan.

Senada dengan Niko, kepala divisi Advokasi LSM-LP3M, Theodorus Nilan SH pada penjelasannya mengatakan, dengan menanam pohon gaharu yang memiliki nilai ekonomi tinggi, suatu saat nanti warga setempat tidak lagi menjadi warga yang miskin di atas tanahnya sendiri akibat menjadi kuli pada perusahaan yang datang berdiri disekitarnya.

”Untuk itu, solusi yang paling tepat dalam persoalan ini adalah menanam mulai dari sekarang sebelum anak dan cucu kita akan meratapi kebodohan kita nanti,”kata alumunus Universitas Atmajaya Makassar ini.

Mewakili tokoh adat, Markus mengatakan bahwa dia dan warganya sangat menyambut baik ajakan pihak LSM ini. ”Kami sangat berterimakasih atas semua yang diberikan oleh LSM-LP3M. Tidak pernah kami menduga ditengah kegelisahan warga muncul ajakan-ajakan positif seperti ini. Kami sangat bersyukur,” kata Markus. (ida)

Sumber: Kaltim Post (Sabtu, 12 April 2008)

Selanjutnya
Posted by Dwi Lesmana on 12 April 2008

Dayak Punan - Our Forest, Our Life
Video sent by gekkostudio

Saving the Indigenous Forests from the Extinction Series

At present, Indonesian forests are in very dangerous situation due to massive exploitation that has been happened in the past couple of years. Every year, areas as big as 3 times of island of Bali are beeing destructed.
In the other hand – different with the general situation – there are still hope, especially in the ancestral forests that are still being managed by the indegenous people. Forest for them means not only the number of standing stock, but it is related with their religion, wisdoms and many king of socio-cultural aspects.
Dayak Punan community in Malinau (Kalimantan island) depend on their forest for collecting eaglewood (gaharu), Seko people in North Luwu (Sulawesi) get benefit from non timber forest products such as resin and rattan for fullfilling their livelihood, Knasaimos tribe in South Sorong (Papua) consider the forests as their own mother.
Initiative to defend the forest, are facing huge challenges. The indigenous people still worry if their forest will be converted into large scale plantation, forest concession or mining exploitation.

A Film by J.E.E.F. (Japan Environmental Education Forum), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), and Telapak. Supported by GISPRI and Produced by Gekko Studio

Selanjutnya
Posted by Dwi Lesmana on 18 March 2008

"Mereka suka membalik-balik nama saya, yang benar adalah Boro Suban Nikolaus, tapi tak apalah, tak penting soal nama", begitu ia berujar pada saya saat kami berbincang di atas perahu bertambat, akhir Oktober tahun lalu, di atas danau Sentarum.

Pak Niko, begitu ia kerap dipanggil. Itu saat-saat pertama saya bertemu langsung dengannya, setelah sekian lama saya kenal baik nama dan bantuannya pada kami. Sejak tahun 1992 saya mengenal namanya, hanya nama, sebagai satu-satunya kontributor dari utara Kalimantan untuk majalah GAHARU, majalah yang diterbitkan PLASMA, sebuah LSM dimana dulu saya bekerja. Nama "Nikolaus Boro" menjadi penghias halaman redaksi setiap kali GAHARU terbit. Setelah sekian lama saya hanya mengenal nama dan karyanya, minggu ini, saya menghabiskan waktu bersama Pak Niko, begitu ia akrab dipanggil. Saya sedang membantunya membereskan organisasi kecilnya.

Pak Niko sudah berumur, mungkin 50-an. Rambutnya lebih didominasi uban, kontras dengan kulitnya yang gelap. "Saya memang orang Timor yang bekerja untuk Kalimantan", katanya sambil tersenyum di depan satu-satunya komputer tuanya. Ya, Pak Niko masih harus sesekali bekerja dengan komputernya, disela-sela kesibukannya membantu Masyarakat Punan Adiu dan komunitas Timor di Malinau ini.

Kesederhanaan Pak Niko ternyata sama sekali tidak mencerminkan masalah dan perannya di kabupaten itu. Ia menjadi ketua bidang politik saat Bupati yang menjabat saat ini mencalonkan diri. Ia harus pula turun tangan jika terjadi perselisihan yang menjurus kepada problem etnis. Ia juga harus masih dan terus berurusan dengan orang-orang pemerintah dan investor karena kegigihannya menolak ekspansi kebun kelapa sawit yang mengancam kawasan-kawasan berhutan. Bukan sekali pula ia menolak rupiah yang ditawarkan agar ia bungkam dan bersekutu. "Apa yang sesungguhnya kau mau?" begitu ia menirukan ucapan orang-orang yang tak suka padanya.

Suatu kali, satu pertanyaan sensitif datang padanya, "Kamu dari Timor, apa kepentinganmu membantu masyarakat Punan? Berapa kamu dapat uang dari menjual mereka?". Ia sudah fasih mendengar pertanyaan-pertanyaan tak suka itu. Ia menjawab dengan caranya sendiri, cara seorang Nikolaus Boro Suban. Bahkan pun pada tuduhan menjual masyarakat seharga 200 juta rupiah, ia menjawab dengan caranya sendiri. "Saya jawab semua itu dengan kerja, dan hasil nyata", katanya sambil tersenyum.

Boro Suban Nikolaus tetap bekerja, hanya melirik sebentar pada cibiran mereka yang tak suka, lalu bergegas bekerja lagi. "Saya tak punya waktu mengurusi hal begitu", gumamnya.

Sumber=
http://priyandoko.blogspot.com/2008/01/boro-suban-nikolaus.html

Selanjutnya
Posted by Dwi Lesmana on 24 January 2008

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

Tentang Kami

Lembaga yang bertujuan membantu masyarakat lokal mempertahankan hutan dan tanah. Tanpa hutan dan tanah, masyarakat dayak yang serabutan (hidup berserah pada alam, tanpa rasa ingin memiliki suatu wilayah, karena tanah yang mereka injak, itulah rumah kami) akan tercerabut dari akarnya

Tag Cloud

Film (3) Berita (2) Gaharu (1)

Berita

Langganan Berita

Followers